Kembali Ke Masa Lalu? No No No.
Bolehkah aku membeli masa lalu? Ya, aku ingin membeli masa lalu dan kembali ke masa sebelum ini. Ah, sial! Ini adalah sebuah penyesalan. Penyesalan karena aku dihantui idealisme orang lain tentang cinta. Mereka punya seribu jurus yang tak pernah bisa aku lakukan. Tapi, aku adalah aku sendiri. Aku terbiasa dengan cara-cara aku tumbuh dan berkarya. Ya, aku tidak mungkin kembali ke masa lalu. Meski getir, inilah jalan hidup. Semakin getir kehidupan maka akan semakin manis ketika mendapat nikmat.
Aku kasih contoh. Kamu bayangkan saja kamu dekat sama orang yang satu kantor. Sudah dekat sekali. Tapi karena perbedaan jalan berpikir, kalian sudahan. Nah, saat sudahan gebetan kamu justru jadian sama orang sahabat kamu. Orang yang selama ini kamu ajak curhat saat kamu ada masalah dengan gebetan kamu. Dan parahnya lagi kalian bertiga satu kantor. Bayangkan kamu lihat gebetan kamu jalan sama sahabatmu setiap hari? Nano nano rasanya.
Hahaha..
Aku yakin pasti akan hancur sekali rasanya. Tapi ada satu sisi yang bisa saja kamu dapatkan kalau kamu bisa bertahan. Kamu justru mendapat motivasi yang luar biasa buat menunjukkan ke mereka bahwa kamu bisa bangkit. Bangkit di depan mereka.
Itu hanya satu dari sekian getirnya kehidupan ini. Ingat hanya satu dari sekian! Masih banyak lagi yang mungkin jauh lebih getir. Tapi, ya santai saja. Nggak usah buru-buru mau bunuh diri. Masih banyak orang yang hidupnya lebih getir.
Kembali ke masa lalu bukan pilihan. Pernah liat film The Time Machine? Diceritakan ada ilmuan yang pacarnya mati ketembak. Kemudian dia membuat mesin waktu untuk kembali ke masa lalu dan mencegah pacarnya tertembak. Tapi hasilnya nihil. Pacarnya mati dengan tertabrak kereta kuda. Berkali-kali dia kembali ke masa lalu, berkali-kali pula pacarnya mati dengan cara yang berbeda. Itu sudah takdir dan tidak bisa dilawan. 😂😂
Kemarin, waktu keliling-keliling di medsos aku nggak sengaja nemuin gambar orang lumpuh yang ngemis di pinggir jalan lagi disuapin sama seseorang. Dari situ aku percaya kalau sudah jatah kita tuh, biar nggak bisa ngapa-ngapain juga pasti datang sendiri.
Jadi semuanya bakal baik-baik saja. Memang untuk jadi baik-baik saja tuh butuh perjuangan yang berat dan melelahkan. Pasti ada perasaan kenapa aku nggak berguna kaya gini. Waktu yang akan menjawabnya.
Okeh, sekian dulu ocehan aku kali ini. Terima kasih udah luangin waktu baca celotehan aku ya. 😊😊😊
Komentar
Posting Komentar