Luka, Akulah Pembuat Luka
Cinta? Itu hanyalah nafsu yang kalian bubuhi idealisme yang membuat aku muak. Aku sudah tidak percaya lagi itu semua. Cinta itu selalu menuntut kesempurnaan. Cinta tidaklah benar-benar mau menerima kekurangan. Setidaknya itulah yang aku alami.
Selama ini aku selalu berusaha menjadi seperti apa yang kalian mau. Mengesampingkan idealismeku. Tapi ternyata perjuanganku tak menghasilkan apapun. Kalian tertarik padaku hanya diawal saja. Setelah kalian mengetahui pemikiranku yang sebenarnya, kalian akan menjauhiku. Dan setiap orang yang hadir tidak pernah ada bedanya. Walaupun datang dengan kata-kata yang manis, semua akan pergi begitu saja. Orang-orang datang padaku hanya membawa luka. Setelah luka itu sembuh, kalian akan pergi meninggalkanku. Tanpa kalian peduli betapa sakitnya ditinggalkan.
Kalian akan pergi dan selalu memintaku untuk tidak dendam, untuk tidak membenci. Bagaimana itu bisa aku lakukan? Bagaimana aku bisa berjalan disisi kalian tanpa dendam? Kalau kalian ingin pergi, pergilah sejauh mungkin dan jangan berada di sisiku. Biarkan aku kembali hidup menyendiri. Biarkan aku tidak membuka diri untuk siapapun.
Dan sialnya akulah yang tidak pernah benar-benar beranjak dari kehidupan kalian. Akulah yang membayangi hidup kalian. Kalianlah yang maha benar dan akulah yang selalu salah. Kesalahanku adalah mengenal dan percaya pada orang-orang macam kalian. Orang-orang baik-baik yang bertemu orang yang naif macam aku. Kebodohan yang terulang terus-menerus.
Luka ini akan selalu menganga dan tidak akan pernah terobati sampai kapanpun. Aku akan selalu takut untuk berharap dan mencoba lagi. Entah sampai kapan ini terjadi. Tapi yang jelas aku akan diam di jurang ini untuk waktu yang lama. Lama sekali sampai hati ini benar-benar hancur.
Keegoisan hati inilah yang menghancurkannya. Egois untuk mendapatkan masa lalu di masa depan. Sesuatu yang tidak akan mungkin bisa kembali lagi. Bagaimanapun juga yang sudah terjadi tidak akan mungkin kembali.
Akulah luka yang akan selalu berjalan sendiri. Meratap dan terus meratap tanpa harapan yang jelas. Orang yang berusaha keras bersyukur dengan kecewa yang terus mendalam. Sampai entah seperti apa hati ini kecewa.
Aku ingin berhenti memakai topeng kebahagian dan mengeluarkan sisi egoisku kembali.
Entah siapa lagi yang akan melukiskan luka dimasa depan? Pastilah akulah yang melukis pertama kali. Sejak pertemuan pertama akulah yang melukiskan luka. Akulah yang tidak bisa mengadapi hubungan seperti yang kalian harapkan kepadaku.
Akulah luka yang akan terus menyakiti hati-hati yang suci, yang tersesat sehingga bertemu dengan orang hysteria dengan dendam yang membara. Kasihan kalian yang sempat tersesat menemaniku.
Komentar
Posting Komentar